BC Sumut Gempur Rokok Ilegal dan Tas Bekas

Tim reaksi cepat Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Utara berhasil menggagalkan upaya penyelundupan rokok ilegal dan pakaian bekas di Medan pada Minggu, 8 Maret 2020. Sebanyak 19 karton rokok ilegal dan 71 bale barang bekas berhasil diamankan saat sedang dibongkar ke sebuah gedung ekpedisi di daerah Medan Denai.

Penangkapan dilakukan sekitar pukul 21.00 WIB saat truk Fuso BM 9476 FU yang dikemudikan TIS tengah membongkar tas,payung dan pakaian bekas ke gudang ekspedisi EJ, serta memindahkan rokok ilegal ke sebuah Toyota Rush hitam BK 1382 UG yang dikemudikan NH. Jumlah barang ilegal yang diamankan adalah 10 karton (100.000 batang) rokok Luffman Putih, 9 karton (90.000 batang) rokok Luffman Merah, dan 40 bale tas bekas.

Tidak lama berselang, tim juga mengamankan sebuah truk Fuso lainnya dengan nomor polisi BM 8963 TU, yang akan melakukan pembongkaran pakaian bekas di lokasi yang sama. Dari truk yang dikemudikan TS ini berhasil diamankan 27 bale tas bekas, 3 bale pakaian bekas, dan 1 bale payung bekas.

Terhadap dua truk Fuso beserta muatannya kemudian diamankan ke Pangkalan BC di Belawan, sedangkan mobil Toyota Rush beserta ketiga supir dan beberapa buruh ekspedisi berinisial RN, DJ dan JT dibawa ke Kantor Wilayah Bea Cukai untuk diperiksa.

Di Tanjungbalai Asahan

Dua pekan sebelumnya, tepatnya 26 Februari 2020, Tim Gabungan Kanwil BC Sumut dengan Kantor BC Kualatanjung dan BC Teluk Nibung yang bersinergi dengan Pomdan I Bukit Barisan, juga menggagalkan upaya pengiriman 56 bale pakaian bekas eks impor ilegal dari Tanjungbalai Asahan ke beberapa kota di Sumut. Penangkapan dilakukan di dua lokasi, yaitu jalan Lintas Timur Sumatera, Kisaran, dan di sebuah gudang di daerah Hessa Perlompongan, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan.

Penangkapan pertama di Kisaran dilakukan sekitar pukul 12.00 WIB terhadap mobil Mitsubishi L300 bernomor polisi BK 9009 CL yang dikemudikan SS dan K, serta Mitsubishi L300 lainnya bernomor polisi BK 9648 YG yang dikemudikan SA dan D. Dari dua mobil yang diperkirakan mengangkut pakaian bekas dari pemasok yang sama ini diperoleh keterangan lokasi gudang penyimpanan pemasok.

Atas dasar informasi tersebut pada malam harinya sekitar pukul 20.30 WIB tim bergerak menuju ke sebuah gudang di daerah Hessa Perlompongan. Pada saat dilakukan penggrebekan, terdapat empat orang berinisial S alias A, W, TN dan K yang tengah melakukan pemuatan 12 bale pakaian bekas ke sebuah bus antarkota. Selain menyita pakaian bekas, tim juga mengamankan beberapa buku catatan pengiriman.

Terhadap upaya penyelundupan rokok ilegal, para pelaku dapat dipidana berdasarkan UU no. 39 tahun 2007 tentang Cukai dengan ancaman pidana penjara 1-8 tahun, dan denda senilai 10- 20 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. Sedangkan terhadap para penyelundup pakaian bekas dapat dipidana berdasarkan UU no.17 tahun 2006 tentang Kepabeanan dengan ancaman pidana penjara 2-8 tahun dan/atau denda antara 100-500 juta rupiah. 

Kapal Bea Cukai Selamatkan Warga Di Perairan Pulau Anua

Tim patroli laut dari Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara menyelamatkan empat warga Kisaran dan Panipahan yang nyaris tenggelam di perairan Pulau Anua, Sumatera Utara pada Kamis 19 September 2019 sekitar pukul 01.30 WIB.

Penyelamatan dilakukan ketika tim yang sedang melakukan kegiatan patroli laut menggunakan kapal BC 20005 melihat adanya kapal yang sedang terombang-ambing di lautan. Ditengah cuaca yang buruk dan ombak yang tinggi, tim berupaya merapat ke kapal tersebut untuk memeriksa kondisi kapal. Setelah berhasil merapat, didapati dek kapal yang diketahui bernama KM Alfatih Pratama ternyata sudah digenangi air. Melihat kondisi tersebut tim langsung mengevakuasi awak kapal lalu membiarkan kapal KM Alfatih Pratama terapung sembari menunggu cuaca membaik. Namun, karena cuaca yang tak kunjung membaik akhirnya kapal KM. Alfatih Pratama tenggelam.

Pada Jum’at pagi 20 September 2019, tim patroli laut dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Teluk Nibung melakukan penjemputan dan serah terima awak kapal KM Alfatih Pratama dari tim patroli BC  20005 untuk dibawa ke daratan menggunakan kapal BC 15031. Sementara itu, tim patroli BC 20005 kembali melanjutkan patroli di perairan Sumatera Utara.

Keempat awak kapal KM Alfatih Pratama diketahui masing-masing bernama Wahyudi dan Supriyatno warga Kisaran serta Jesminar dan Mayruli Arahim warga Panipahan, Sumatera Utara. Seluruhnya dapat kembali ke tempat asalnya dengan keaadan selamat.

Dalam melaksanakan patroli, petugas bea dan cukai dibekali pengetahuan umum tentang penyelamatan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal darurat yang kemungkinan bisa terjadi di lautan.

Bea Cukai Sumut Kembali Gagalkan Penyelundupan 201.900 Batang Rokok Ilegal

Tim gabungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Sumatera Utara bersama Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Kuala Tanjung dan Detasemen Polisi Militer Komando Daerah Militer (Denpom Kodam) Bukit Barisan kembali menggagalkan upaya penyelundupan 201.900 batang rokok ilegal. Penindakan tersebut dilakukan di dua lokasi berbeda yaitu Kecamatan Tebing Syahbandar dan Kecamatan Bandar Khalifah, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara pada Sabtu (21/09/2019).

“Awalnya, kami mendapat informasi dari masyarakat yang menyebutkan akan ada pembongkaran rokok illegal dari truk ke mobil minibus di daerah Kecamatan Tebing Syahbandar”, ujar Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil BC Sumut, Sodikin.

Mendapati informasi tersebut, petugas melakukan penyisiran sepanjang Jalan Lintas Sumatera. Kemudian, petugas menemukan sebuah rumah makan yang dijadikan sebagai tempat pemberhentian truk ekspedisi dan bongkar barang. Di parkiran belakang rumah makan tersebut petugas melihat aktifitas bongkar barang dalam karton warna coklat kedalam minibus Avanza dan Xenia. Selanjutnya petugas memeriksa truk dan dua mobil tersebut lalu menemukan 20 karton berisi 200.000 batang rokok ilegal bermerk Luffman.

Dari keterangan pemilik mobil minibus, diketahui rokok tersebut rencananya akan dijual ke daerah Pagurawan. Selanjutnya, petugas segera menuju ke lokasi dan melakukan pemeriksaan terhdap toko Gultom di dusun Juhar 2 dan toko Sutrisno di desa Sei Birung Kecamatan Bandar Khalifah. Dari hasil pemeriksaan dua toko tersebut petugas menemukan rokok tanpa pita cukai bermerk Luffman sebanyak 5 slop dan 45 bungkus yang berisi 1.900 batang.

Selanjutnya, petugas melakukan pemeriksaan terhadap ketiga tersangka masing-masing berinisial HG (pengemudi Avanza), BSD (pengemudi Xenia) dan AN (pengemudi truk). Sementara itu, total barang bukti sebanyak 201.900 batang rokok ilegal diamankan ke KPPBC TMP C Kuala Tanjung.

“Kerugian negara yang diakibatkan dari rokok ilegal tersebut diperkirakan mencapai 126 juta rupiah,” ungkap Sodikin.

Ketiga tersangka melanggar Pasal 54 Undang-Undang Nomo4 39 Tahun 2007 tetang Cukai, dan terancam pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

BEA CUKAI SUMUT TANGKAP ROKOK ILLEGAL

Secara beruntun dalam seminggu lalu Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara melakukan penangkapan rokok illegal yang akan diedarkan di wilayah Sumatera Utara.  Pada tanggal 23 Mei 2019, sebuah truk tronton dari Jawa Tengah bermuatan 450 box atau sejumlah 7.200.000 batang rokok illegal berupa rokok salah peruntukan, diamankan di Gudang sekitar jalan Krakatau medan.  Dilanjutkan pada tanggal 27 Mei 2019 kembali Kanwil Bea dan Cukai menangkap 108 box atau sejumlah 1.080.000 batang rokok illegal berupa rokok polos tanpa pita cukai.

Dalam penjelasannya, Oza Olavia Kakanwil Bea Cukai Sumatera Utara mengatakan rokok illegal berupa rokok salah peruntukan maksudnya adalah rokok kemasan isi 20 batang, tetapi dilekati dengan pita cukai rokok kemasan isi 12 batang.  Sehingga terjadi kekurangan pembayaran cukai setidaknya sebesar Rp. 2.1 Miliar rupiah.  Sementara itu rokok illegal berupa rokok polos tanpa pita cukai adalah rokok yang diedarkan dalam kemasan yang sama sekali tanpa membayar cukai.  Pelekatan pita cukai pada kemasan rokok merupakan bukti bahwa rokok tersebut telah dibayar cukainya kepada Negara.  Kerugian Negara dari kasus tersebut adalah sekitar 702 juta rupiah.

Khusus untuk pelanggaran rokok polos, Oza Olavia mewanti-wanti kepada masyarakat Sumatera Utara khususnya para penjual, baik grosir ataupun toko eceran untuk tidak terlibat memperjual belikannya.  Karena dalam Undang-undang Cukai disebutkan siapa saja yang memperjualbelikan rokok polos, atau bahkan kepada siapapun yang memperoleh, menimbun atau menyimpan Rokok Polos maka akan dikenakan sanksi pidana penjara antara 1 tahun samapi 5 tahun.  Di tahun 2019 ini setidaknya sudah 5 orang dipenjarakan karena bertindak sebagai distributor rokok polos.

Tentu akan sangat rugi jika karena jumlah keuntungan yang tidak seberapa menjual rokok polos, para penjual eceran (kedai) harus menanggung hukuman penjara” tambahnya.

Bea Cukai Sumatera Utara mengidentifikasi sejak akhir 2018 hingga saat ini peredaran rokok illegal diperkirakan mengalami peningkatan, baik yang berasal dari Pulau Jawa atau yang diselundupkan dari Batam/Singapura melalui Perairan Riau.  Kesimpulan ini didasarkan data peningkatan tangkapan rokok Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara yang hingga Mei 2019 ini saja sudah mencapai 12.550.746 batang.  Jumlah tersebut telah melampaui jumlah tangkapan 2 tahun terakhir berturut-turut tahun 2017 dan 2018 sejumlah 6.855.193 batang.

Oza Olavia meminta masyarakat untuk turut membantu pemberantasan rokok illegal ini, karena akibatnya akan secara langsung berpengaruh pada roda pembangunan di Sumatera Utara.  Jika rokok illegal banyak beredar maka pembayaran Cukai Rokok dan Pajak Rokok menjadi berkurang.  Padahal dari pungutan ini akan langsung dialokasikan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) kepada Pemerintah Provinsi dan seluruh Pemerintah Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara untuk pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat, pengembangan industri kecil dan menengah atau pembangunan infrastrukstur lain.

Dampak lain yang mungkin terjadi adalah meningkatknya pengangguran dan runtuhnya industri pertanian tembakau dan industri rokok di Sumatera Utara.

Untuk itu, pada tanggal 16 Mei 2019 Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara telah menjalin kerjasama dengan Bappeda Provinsi dan seluruh Pemerintah Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara, untuk mensinergikan dan mengefektifkan gerakan sosialisasi dan pemberantasan rokok illegal. Gerakan bersama ini diharapkan dapat menghilangkan perbedaan intensitas gerakan sosialisasi dan pemberantasan rokok illegal antara Kabupaten / Kota pengelola industri pertanian tembakau atau industri rokok, dengan daerah lain sebagai daerah pemasaran rokok.

Bea Cukai Sumut Musnahkan Barang Ilegal Senilai 190 Juta Rupiah

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Sumatera Utara dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B (KPPBC TMP B) Medan melakukan pemusnahan bersama atas Barang Milik Negara (BMN) hasil penindakan senilai sekitar 190 juta rupiah. Pemusnahan dilakukan pada Selasa 30 April 2019 di Pangkalan Kanwil DJBC Sumatera Utara, Belawan.

BMN tersebut merupakan hasil penindakan yang dilakukan oleh Bea Cukai dan aparat penegak hukum lain yang telah mendapat persetujuan pemusnahan dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Medan. Pemusnahan barang-barang tersebut dilakukan dengan cara dibakar pada tungku pembakaran.

“BMN yang dimusnahkan berupa 238 (dua ratus tiga puluh delapan) ball pakaian bekas (ballpress), alat kosmetik, obat-obatan, makanan, alat kesehatan, dan aksesori,” ujar Eka Galih, Kepala Seksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan Kanwil DJBC Sumatera Utara.

“Adapun untuk detil jumlah barang yang dimusnahkan adalah 5.671 unit kosmetik, 11.895 unit obat-obatan, dan 2.914 unit barang lainnya yang terdiri dari pakaian, makanan, alat kesehatan dan aksesoris,” tambah Edy Safutra, Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC TMP B Medan.

Tidak ada kerugian negara yang diakibatkan atas barang-barang tersebut. Namun, barang-barang tersebut dapat berdampak negatif bagi masyarakat dikarenakan belum teruji dan belum terdaftar di lembaga terkait seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan lain-lain.

Terutama pakaian bekas yang merupakan komoditi yang dilarang untuk diimpor sesuai pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, dan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas.

“Secara bentuk immaterial, impor pakaian bekas akan sangat mengganggu industri konveksi dalam negeri yang berimbas pada peningkatan jumlah pengangguran, menularkan penyakit ke pemakai karena tidak higienis serta menurunkan harga diri bangsa di tingkat internasional tentang daya beli masyarakat Indonesia,” ujar Eka Galih menambahkan.

Provinsi Sumatera Utara termasuk salah satu wilayah yang rawan penyelundupan ballpress yang dominan terjadi di pesisir pantai timur. Oleh karena itu, Bea Cukai bersinergi dengan Aparat Penegak  Hukum lainnya berkomitmen untuk melakukan penindakan terhadap importasi illegal di wilayah Sumatera Utara. (riz)