Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Eskpor Rotan

Admin/ June 26, 2019/ Keranjang Berita/ 0 comments

Tim gabungan Bea Cukai Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Kepulauan Riau berhasil menggagalkan penyelundupan rotan sebanyak 40 ton dalam Operasi Patroli Laut Terpadu Jaring Sriwijaya 2019. Rotan yang dimuat di Kapal Motor (KM) Bintang Kejora berhasil digagalkan penyelundupannya pada hari Jumat (21/6) pukul 03.00 WIB di Perairan Pantai Keuremak, Kabupaten Aceh Tamiang.

Penegahan terhadap KM Bintang Kejora dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan awal oleh tim bea cukai dari kapal patroli Bea Cukai BC10002, yang mendapati bahwa rotan muatan kapal tersebut tidak diberitahukan ekspornya dan tidak ada dalam dalam daftar muatan kapal (manifest). KM Bintang Kejora kemudian dikawal ke Pangkalan Bea Cukai Belawan untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan. Nahkoda KM Bintang Kejora serta lima orang anak buah kapal saat ini ditahan di rumah tahanan kelas II B Labuhan Deli, Medan.

Rotan asalan sebanyak ± 40 (empat puluh) ton yang dikemas dalam 83 bundle ini berasal dari Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang. Rotan-rotan ilegal ini rencananya akan diekspor ke Pulau Penang, Malaysia. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 44/M-DAG/PER/7/2012 tanggal 18 Juli 2012 tentang Barang Dilarang Ekspor, rotan dalam bentuk utuh (mentah/segar/dicuci/dikikis buku-bukunya), rotan setengah jadi, hati rotan, kulit rotan, dan rotan yang tidak dalam bentuk utuh merupakan barang di bidang kehutanan yang dilarang ekspornya.

Sanksi hukum atas pelaku tindak pidana tersebut diatur dalam pasal 102A huruf (a) dan/atau Pasal 102A huruf (e) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan, yaitu: “Setiap orang yang mengekspor barang tanpa menyerahkan pemberitahuan pabean; setiap orang yang mengangkut barang ekspor tanpa dilindungi dengan dokumen yang sah sesuai dengan pemberitahuan pabean sebagaimana dimaksud dalam pasal 9A ayat (1) dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang ekspor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 5.000.000.000 (lima miliar rupiah)”.

Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara, Oza Olavia mengatakan bahwa sebagai institusi yang memiliki fungsi Community Protector, kami bersama seluruh instansi dan aparat penegak hukum lain terus menjalin sinergi untuk dapat melindungi masyarakat dari masuk dan keluarnya barang barang yang dapat merugikan dan/atau membahayakan negara ini, penyelundupan rotan tentunya akan berpotensi merusak ekosistem karena tidak dikontrol pemanfaatannya, lebih lanjutnya lagi ini sangat merusak ekonomi dalam negeri dengan penyelundupan bahan mentah yang merupakan sumber daya alam Indonesia. “Saya harap dengan adanya sanksi hukum yang tegas, pelaku usaha maupun masyarakat tidak melakukan tindak penyelundupan ekspor seperti ini lagi,” ujar Oza Olavia. (dit)

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*