BC Belawan Selamatkan 28 Ekor Burung yang Dilindungi

Admin/ April 15, 2019/ Keranjang Berita/ 0 comments

Bea Cukai Belawan menyelamatkan 28 ekor burung yang dilindungi berdasarkan Convention on International Trade Endangered Species (CITES) dari perdagangan illegal satwa liar. Penyelundupan burung dari spesies Nuri Ambon (Alisterus amboinensis), Nuri Kepala Hitam (Lorius lory), dan Kakaktua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) berhasil digagalkan oleh Tim Patroli Laut Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) Belawan di wilayah perairan Belawan sekitar pukul 22.30 WIB, Sabtu, 13 April 2019

Pada penindakan ini, Bea Cukai Belawan melakukan penegahan terhadap sarana pengangkut laut TUG Boat (TB) Kenari Djaja dengan rute Pulau Buru Maluku Utara – Belawan, serta mengamankan barang bukti berupa 23 ekor Burung Nuri Ambon, satu ekor Burung Nuri Kepala Hitam, dan empat ekor Burung Kakaktua Jambul Kuning. Di dalam CITES spesies Nuri Ambon dan Nuri Kepala Hitam masuk pada Appendix II (mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut) sedangkan Kakaktua Jambul Kuning masuk pada Appendix I (dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional). “Dari hasil pengecekan oleh petugas, dokumen perjalanan yang dipersyaratkan untuk membawa keluar produk hewan pada sarana pengangkut ternyata tidak dilengkapi oleh dokumen pendukung,” ujar Haryo Limanseto, Kepala KPPBC TMP Belawan.

Patroli laut rutin pengawasan antar pulau atas barang tertentu merupakan salah satu upaya dari Bea Cukai Belawan untuk mengantisipasi terjadinya penyelundupan seperti ini. Modus yang dilakukan oleh pelaku kali ini adalah menyembunyikan barang bukti (28 ekor burung) dengan membuat ruang kosong dalam dinding di kamar anak buah kapal atau biasa disebut modus false concealment. Anak buah kapal berjumlah sembilan orang yang telah diamankan diduga melanggar pasal 21 ayat 1 dan 2 dan pasal 40 ayat 2 Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta pasal 31 ayat 1 Undang-undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan,Ikan, dan Tumbuhan.

Penyelundupan burung paruh bengkok dari wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku merupakan hal yang sering terjadi. Hal ini merupakan kerugian imateriel yang tidak dapat dinilai, mengingat spesies burung tersebut merupakan keragaman hayati Indonesia yang menjadi kebanggaan kita semua. Kelangsungan hidup satwa liar asli Indonesia sudah semestinya menjadi tanggung jawab kita sebagai warga negara untuk menjaganya. (dit)

Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*